may Allah Bless you

Friday, 6 May 2011

Biografi Abu bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه



1 . Nama Abu bakar ash-Shiddiq رضي
الله عنه sebenarnya adalah Abdullah bin Usman bin Amir bin Amru bin
Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai bin Ghalib bin
Fihr(17) al-Qurasy at-Taimi. Bertemu nasabnya dengan Nabi صلى الله عليه وسلم pada kakeknya Murrah bin Ka'ab bin Lu'ai.
Dan ibunya adalah Ummu al-Khair Salma binti Shakhr bin Amir bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim.(18 ) Berarti ayah dan ibunya berasal dari kabilah Bani Taim.
Ayahnya diberi kuniyah (sebutan
panggilan) Abu Quhafah. Dan pada masa jahiliyyah Abu Bakar ash-Shiddiq
رضي الله عنه digelari Atiq. Imam Thabari menye-butkan(19) dari jalur Ibnu Luhai'ah bahwa anak-anak dari Abu Quhafah tiga orang, pertama Atiq (Abu Bakar), kedua Mu'taq dan ketiga Utaiq.





II. KARAKTER FISIK DAN AKHLAKNYA,

Abu Bakar رضي الله عنه adalah seorang yang bertubuh kurus, berkulit putih.(20)
' Aisyah رضي الله عنه menerangkan karakter bapaknya, "Beliau berkulit
putih, kurus, tipis kedua pelipisnya, kecil pinggang (sehingga kainnya
seialu turun dari pinggangnya), wajahnya seialu berkeringat, hitam
matanya, berkening lebar, tidak bisa bersaja’ dan seialu mewarnai
jenggotnya dengan memakai hinai maupun katam."(21)
Begitulah karakter fisik beliau. Adapun akhlaknya, beliau terkenal
dengan kebaikan, keberanian, kokoh pendirian, seialu memiliki ide-ide
yang cemerlang dalam keadaan genting, banyak toleransi, penyabar
memiliki azimah (keinginan keras), faqih, paling mengerti dengan
garis keturunan Arab dan berita-berita mereka, sangat bertawakkal
kepada Allah dan yakin dengan segala janjiNya, bersifat wara' dan jauh
dari segala syubhat, zuhud terhadap dunia, selalu mengharapkan apa-apa
yang lebih baik di sisi Allah, serta lembut dan ramah, semoga Allah
meridhainya. Akan diterang-kan kelak secara rinci hal-hal yang
membuktikan sifat-sifat dan akhlaknya yang mulia ini.



III. KEISLAMANNYA
Abu Bakar رضي الله عنه adalah
lelaki yang pertama kali memeluk Islam, walaupun Khadijah رضي الله عنه
lebih dahulu masuk Islam daripadanya, adapun dari golongan anak-anak,
Ali yang pertama kali memeluk Islam, sementara Zaid bin Haritsah رضي
الله عنه adalah yang pertama kali memeluk Islam dari golongan budak.
Ternyata keislaman Abu Bakar ra. paling banyak membawa manfaat besar
terhadap Islam dan kaum muslimin dibandingkan dengan keislaman
selainnya, karena kedudukannya yang tinggi dan semangat serta
kesungguhan-nya dalam berdakwah.(22 ) Dengan
keislamannya maka masuk mengikutinya tokoh-tokoh besar yang masyhur
sepérti Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqas, Usman bin Affan,
Zubair bin Awwam, dan Talhah bin Ubaidil-lah رضي الله عنه Di awal
keislamannya beliau menginfakkan di jalan Allah apa yang dimilikinya
sebanyak 40.000 dirham, beliau banyak memerdekakan budak-budak yang
disiksa karena keislamannya di jalan Allah, seperti Bilal رضي الله عنه.
Beliau selalu mengiringi Rasulullah صلى الله عليه وسلم selama di
Makkah, bahkan dialah yang mengiringi beliau ketika bersembunyi dalam
gua dan dalam perjalanan hij-rah hingga sampai di kota Madinah. Di
samping itu beliau mengikuti seluruh peperangan yang diikuti Rasulullah
صلى الله عليه وسلم baik perang Badar, Uhud, Khandaq, Penaklukan kota
Makkah, Hunain maupun peperangan di Tabuk.


IV. ISTRI-ISTRI DAN ANAK-ANAKNYA(23)
Abu Bakar رضي الله عنه pernah
menikahi Qutailah binti Abd al-Uzza bin Abd bin As'ad pada masa
Jahiliyyah dan dari pernikahan tersebut lahirlah Abdullah dan Asma'.
Beliau juga menikahi Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Zuhal bin
Dahman dari Kinanah, dari pernikahan tersebut lahirlah Abdurrahman dan
‘Aisyah ra. Beliau juga menikahi Asma' binti Umais bin Ma'add bin Taim
al-Khats'amiyyah, dan sebelumnya Asma' diperisteri oleh Ja'far bin Abi
Thalib رضي الله عنه. Dari hasil pernikahan ini lahirlah Muhammad bin
Abu Bakar رضي الله عنه, dan kelahiran tersebut terjadi pada waktu haji
Wada' di Dzul Hulaifah. Beliau juga menikahi Habibah binti Kharijah bin
Zaid bin Abi Zuhair رضي الله عنه dari Bani al-Haris bin al-Khazraj. Abu
bakar رضي الله عنه pernah singgah di rumah Kharijah ketika beliau
datang ke Madinah dan kemudian mempersunting putrinya, dan beliau masih
terus berdiam dengannya di suatu tempat yang disebut dengan as-Sunuh(24)hingga
Rasulullah saw. wafat dan beliau kemudian diangkat menjadi khalifah
sepeninggal Rasulullah صلى الله عليه وسلم Dari pernikahan tersebut
lahirlah Ummu Kaltsum setelah wafatnya Rasulullah saw.



V. BEBERAPA CONTOH KETELADANAN DAN KEUTAMAANNYA
Keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq
رضي الله عنه sangat banyak sekali dan telah dimuat dalam kitab-kitab
sunnah, kitab tarajim (biografi para tokoh), maupun kitab-kitab tarikh,
namun saya akan berusaha meringkas sesuai dengan yang telah disebutkan
al-Hafizh Abdullah al-Bukhari dalam shahihnya yang termuat dalam Kitab
Fadha'il Shahabat.(25)


1) Beliau Adalah Sahabat Rasulullah saw. di Gua Dan Ketika Hijrah
Allah berfirman,
"Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah
menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah)
mengeluar-kannya (dari Makkah) sedang dia salah seseorang dari dua
orang ketika ke-duanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada
temannya, 'Janganlah berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita”.
(At-Taubah: 40)

Aisyah, Abu Said dan Ibnu Abbas
رضي الله عنه dalam menafsirkan ayat ini mengatakan “ Abu Bakarlah yang
mengiringi Nabi dalam gua tersebut.”

Diriwayatkan dari al-Barra' bin
'Azib رضي الله عنه, ia berkata, "Suatu ketika Abu Bakar pernah membeli
seekor tunggangan dari Azib dengan harga 10 Dirham, maka Abu Bakar
berkata kepada 'Azib, Suruhlah anakmu si Barra agar mengantarkan hewan
tersebut." Maka 'Azib berkata, "Tidak, hingga engkau menceritakan
kepada kami bagaimana kisah perjalananmu bersama Rasulullah saw. ketika
keluar dari Makkah sementara orang-orang musyrikin sibuk mencari-cari
kalian." Abu Bakar berkata, "Kami berangkat dari Makkah, berjalan
sepanjang siang dan malam hingga datang waktu zuhur, maka aku
mencari-cari tempat bernaung agar kami dapat istirahat di bawahnya,
ternyata aku melihat ada batu besar, maka segera kudatangi dan terlihat
di situ ada naungannya, maka kubentangkan tikar untuk Nabi صلى الله
عليه وسلم kemudian kukatakan padanya, "Istirahat-lah wahai Nabi Allah."
Maka beliaupun beristirahat, sementara aku memantau daerah sekitarku,
apakah ada orang-orang yang mencari kami datang mengin-tai. Tiba-tiba
aku melihat ada seorang pengembala kambing sedang menggiring kambingnya
ke arah teduhan di bawah batu tersebut ingin berteduh seperti kami,
maka aku bertanya padanya, "Siapa tuannmu wahai budak?" Dia menja-wab,
"Budak milik si fulan, seseorang dari suku Quraisy." Dia menyebut nama
tuannya dan aku mengenalnya, kemudian kutanyakan, "Apakah kambingmu
memiliki susu?" Dia menjawab, "Ya!" lantas kukatakan, "Maukah engkau
memeras untuk kami?" Dia menjawab, "Ya!" Maka dia mengambil salah satu
dari kambing-kambing tersebut, setelah itu kuperintahkan dia agar
member-sihkan susu kambing tersebut terlebih dahulu dari kotoran dan
debu, kemudian kuperintahkan agar menghembus telapak tangannya dari
debu, maka dia menepukkan kedua telapak tanggannya dan dia mulai
memeras susu, sementara aku telah mempersiapkan wadah yang di mulutnya
dibalut kain menampung susu tersebut, maka segera kutuangkan susu yang
telah diperas itu ke dalam tempat tersebut dan kutunggu hingga bawahnya
dingin, lalu kubawakan kehadapan Nabi saw. dan ternyata beliau sudah
bangun, segera kukatakan padanya, "Minumlah wahai Rasulullah saw.."
Maka beliau mulai minum hingga kulihat beliau telah kenyang, setelah
itu kukatakan padanya, "Bukan-kah kita akan segera berjalan kembali ya
Rasulullah saw.?" Beliau menjawab, "Ya!" Akhirnya kami melanjutkan
perjalanan sementara orang-orang musyrik terus menerus mencari kami,
tidak satupun yang dapat menyusul kami kecuali Suraqah bin Malik bin
Ju'syam yang mengendarai kudanya, maka kukatakan pada Rasulullullah,
"Orang ini telah berhasil mengejar kita wahai Rasulullah saw.," namun
beliau menjawab,"Jangan khawatir, sesungguhnya Allah beserta kita."

Diriwayatkan dari Anas dari Abu
Bakar beliau berkata, "Kukatakan kepada Nabi saw ketika kami berada
dalam gua, 'Andai saja mereka (orang-orang Musyrik) melihat ke bawah
kaki mereka pastilah kita akan terlihat.' Rasul menjawab,"Bagaimana
pendapatmu wahai Abu Bakar dengan dua orang manusia sementara Allah
menjadi yang ketiga."

2) Abu Bakar رضي الله عنه Adalah Sahabat yang Paling Banyak Ilmunya

Abu Sa'id al-Khudri رضي الله عنه berkata, "Suatu ketika Rasulullah صلى
الله عليه وسلم berkhutbah dihadapan manusia dan berkata,"Sesungguhnya
Allah telah menyuruh seorang hamba untuk memilih antara dunia atau
memilih ganjaran pahala dan apa-apa yang ada di sisiNya, namun ternyata
hamba tersebut memilih apa-apa yang ada disisi Allah." Abu Sa'id رضي
الله عنه berkata, "Maka Abu Bakar menangis, kami heran kenapa beliau
menangis padahal Rasulullah saw. hanyalah menceritakan seorang hamba
yang memilih kebaikan, akhirnya kami ketahui bahwa hamba tersebut
ternyata tidak lain adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم. sendiri, dan
Abu Bakarlah yang paling mengerti serta berilmu di antara kami.
Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم. bersabda,"Sesungguhnya orang
yang sangat besar jasanya padaku dalam persahabatan dan kerelaan
mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. Andai saja

aku diperbolehkan mengangkat seseorang menjadi kekasihku selain Rabbku
pastilah aku akan memilih Abu Bakar رضي الله عنه, namun cukuplah
persaudaraan se-lslam dan kecintaan karenanya. Maka jangan ditinggalkan
pintu kecil di masjid selain pintu Abu Bakar saja."

Diriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنه istri Rasulullah صلى الله
عليه وسلم. ia berkata, "Ketika Rasulullah saw. wafat Abu Bakar sedang
berada di suatu tempat yang bernama Sunuh- Ismail berkata, "Yaitu
sebuah kampung, maka Umar berdiri dan berpidato, "Demi Allah
sesungguhnya Rasulullah saw. tidak meninggal. ‘Aisyah ra. melanjutkan,
Kemudian Umar رضي الله عنه berkata, "Demi Allah tidak terdapat dalam
hatiku melainkan perasaan bahwa beliau belum mati, Allah pasti akari
membangkitkannya dan akan dipotong kaki dan tangán mereka (yang
menga-takan beliau telah mati, pent.). Kemudian datanglah Abu Bakar رضي
الله عنه menyingkap kain yang menutup wajah Rasulullah saw. serta
menciumnya sambil berkata, Kutebus dirimu dengan ibu dan bapakku,
alangkah harum dan eloknya engkau saat hidup dan sesudah mati, demi
Allah yang diriku berada di-tanganNya mustahil Allah akan menimpakan
padamu dua kali kematian selama-lamanya."



Kemudian Abu Bakar keluar dan berkata, "Wahai orang yang telah
bersumpah, (yakni Umar) tahanlah bicaramu!" Ketika Abu Bakar mulai
berbicara maka Umar duduk, setelah memuji Allah beliau berkata,
"Ingatlah sesungguhnya siapa saja yang menyembah Muhammad صلى الله عليه
وسلم maka beliau se-karang telah wafat,

dan barangsiapa yang menyembah Allah maka sesung guhnya Allah akan
tetap hidup tidak pernah mati. Kemudian beliau memba-cakan ayat,



"Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)." (Az-Zumar: 30).



Dan ayat,



"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah
berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau
dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) Barangsiapa yang berbalik ke
belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah
sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang
bersyukur." (Ali-Imran: 144).



Ismail رضي الله عنه berkata, "Maka manusia mulai menangis terisak-isak,
kemudian kaum Anshar segera berkumpul bersama Sa'ad bin Ubadah di
Saqifah Bani Sa'idah dan mereka berpendapat, "Dari kami seorang amir
(pemimpin) dan dari kalian (muhajirin) juga seorang amir." Maka segera
Abu Bakar, Umar bin al-Khaththabdan Abu Ubaidah bin al-Jarrah berangkat
mendatangi majlis mereka, Umar berbicara tetapi Abu Bakar menyuruhnya
untuk diam, Umar berkata, "Demi Allah sebenarnya aku tidak ingin
berbicara melainkan aku telah persiapkan kata-kata yang kuanggap sangat
baik yang kutakutkan tidak akan disampaikan oleh Abu Bakar." Kemudian
Abu Bakar bepidato dan perkataarnnya sungguh mengena, beliau berkata,
"Kami yang menjadi amir dan kalian menjadi wazir." Maka Hubab bin
Munzir berkata, "Tidak Demi Allah kami tidak akan terima, tetapi dari
kami seorang amir dan dari kalian seorang amir pula." Abu Bakar
menja-wab, "Tidak, tetapi kamilah yang menjabat sebagai amir dan kalian
menjadi wazir, karena sesungguhnya mereka (Quraisy) yang paling mulia
kedu-dukannya di bangsa Arab dan yang paling tinggi nasabnya, maka
silahkan kalian membai'at Umar ataupun Abu Ubaidah." Maka spontan Umar
menja-wab, "Tetapi engkaulah yang lebih pantas kami bai'at engkaulah
pemimpin kami, orang yang paling baik di antara kami dan orang yang
paling dicintai oleh Rasulullah saw. daripada kami." Maka Umar segera
meraih tangán Abu Bakar dan membai'atnya akhirnya orang-orangpun turut
membaiatnya pula.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah رضي الله عنه ia berkata, "Pandangan Nabi
menengadah keatas dan berkata, "Tetapi Yang kupilih adalah Ar-Rafiqul
A'la (kekasih Allah Yang Mahatinggi) 3X. ‘Aisyah ra. melanjutkan,
"Tidaklah perkataan mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) kecuali Allah
jadikan bermanfaat untuk manusia, profile Umar yang tegas berhasil
membuat orang munafik yang menyusup di antara kaum muslimin sangat
takut padanya, dengan kepriba-diannya Allah menolak kemunafikan. Adapun
Abu Bakar, beliau berhasil menggiring manusia hingga mendapatkan
petunjuk kepada kebenaran dan mengetahui kewajiban mereka, Abu Bakar
berhasil mengeluarkan umat dari bencana perpecahan setelah meninggalnya
Rasulullah صلى الله عليه وسلم. setelah membacakan ayat,

"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah
berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau
dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) Barangsiapa yang berbalik ke
belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah
sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang
bersyukur." (Ali Imran :144).





3) Abu Bakar رضي الله عنه Adalah Sahabat Yang Paling Utama

Diriwayatkan dari Muhammad bin al-Hanafiyyah رضي الله عنهdia berkata,
"Kutanyakan pada ayahku siapa manusia yang paling baik setelah
Rasulullah saw." Maka beliau menjawab, "Abu Bakar!" Kemudian kutanyakan
lagi, "Siapa setelahnya?" Beliau menjawab, "Umar." Dan aku takut jika
dia menyebut Utsman sesudahnya maka kukatakan, "Setelah itu pasti anda.
Namun beliau menjawab, "Aku hanyalah salah seorang dari kaum muslimin."



4) Kedudukan Abu Bakar رضي الله عنه di Sisi Rasulullah saw.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله عنه dari Rasulullah صلى الله عليه
وسلم. beliau bersabda, ”Andai saja aku dibolehkan mengambil Khalil
(kekasih) selain Allah pasti aku akan memilih Abu bakar sebagai khalil
namun dia adalah saudaraku dan sahabatku." Diriwayatkan dari Abdullah
bin Abi Malikah ia berkata, "Penduduk Kufah bertanya kepada Abdullah
bin az-Zubair perihal bagian warisan yang akan diperoleh seorang kakek,
maka dia berkata, "Ikutilah pendapat Abu Bakar. Bukankah Rasulullah
saw. pernah menyebutkan perihal dirinya, "Andai saja aku dibolehkan
mengambil Khalil (kekasih) selain Allah pasti aku akan memilihnya." Abu
Bakar mengatakan, "Samakan pembagian kakek dengan bagian bapak (Jika
bapak tidak ada)."



Diriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله عنه dari Nabi saw ” Tutuplah seluruh pintu-pintu kecuali pintu Abu Bakar.”

Dari Muhammad bin Jubair bin Muth'im dari bapaknya dia berkata, "Pernah
seorang wanita mendatangi Nabi, kemudian beliau menyuruh-nya kembali
datang menghadapnya, maka wanita itu bertanya, "Bagaimana jika kelak
aku datang namun tidak lagi menjumpaimu -seolah-olah ia meng-isyaratkan
setelah rasul wafat- maka Rasulullah saw. berkata,"Jika engkau tidak
menjumpaiku maka datangilah Abu Bakar."



Diriwayatkan dari Abu Darda رضي الله عنه"Aku sedang duduk bersama Nabi
tiba-tiba muncullah Abu Bakar sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga
terlihat lututnya, maka Nabi berkata, "'Sesungguhnya teman kalian ini
sedang kesal maka berilah salam atasnya." Maka Abu Bakar berkata,
"Wahai Rasulullah saw., antara aku dan Ibnu al-Khaththab terjadi
perselisihan, maka aku segera mendatanginya untuk meminta maaf, kumohon
padanya agar mema-afkan aku namun dia enggan menerima permohonanku,
karena itu aku datang menghadapmu sekarang." Rasulullah saw. menjawab,
"Semoga Allah mengam-punimu wahai Abu Bakar." Sebanyak tiga kali, tak
lama setelah itu Umar menyesal atas perbuatannyadan mendatangi rumah
Abu Bakar sambil bertanya, "Apakah di dalam ada Abu Bakar?" Namun
keluarganya menjawab, tidak, Umar segera mendatangi Rasulullah saw.
sementara wajah Rasulullah saw. terlihat memerah karena marah, hingga
Abu Bakar merasa kasihan terhadap Umar dan memohon sambil duduk diatas
kedua lututnya, "Wahai Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Demi Allah
sebenarnya akulah yang bersalah -dua kali-," Maka Rasulullah saw.
berkata, "Sesungguhnya aku telah diutus Allah kepada kalian namun
kalian mengatakan, "Engkau pendusta!" Sementara Abu Bakar berkata,
"Engkau benar " Setelah itu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan
hartanya. Lalu apakah kalian tidak jera menyakiti sahabatku ?" Setelah
itu Abu Bakar tidak pernah lagi di sakiti."



5) Abu Bakar رضي الله عنه Paling Dulu Masuk Islam dan Selalu Mendampingi Rasulullah saw.

Diriwayatkan dari Wabirah bin Abdurrahman dari Hammam dia berkata, Aku
mendengar Ammar berkata, "Aku melihat Rasulullah saw. pada waktu itu
tidak ada yang mengikutinya kecuali lima orang budak, dua wanita dan
Abu Bakar."



6) Orang yang Paling Dicintai Rasulullah saw.

Diriwayatkan dari Abu Utsman رضي الله عنه dia berkata, "Telah berkata
kepadaku Amru bin al-Ash bahwa Rasulullah saw. pernah mengutusnya dalam
peperangan Dzatus Salaasil, kemudian aku mendatanginya dan bertanya,
"Siapakah orang yang paling kau cintai? Maka Rasulullah saw. menjawab,
'"Aisyah!" Kemudian kutanyakan lagi, "Dari kalangan laki-laki?" Rasul
صلى الله عليه وسلم menjawab, "Bapaknya." Kemudian kutanyakan lagi,
"Siapa setelah itu?" Dia menjawab, "Umar!" Kemudian Rasulullah saw.
menyebutkan beberapa orang lelaki".



7) Imán dan Keyakinannya yang Kuat

Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه dia berkata, "Aku pernah
men-dengar Rasulullah saw. berkata, "Ketika seorang pengembala
sedang menggembala kambingnya, tiba-tiba datang seekor serigala
memangsa seekor kambingnya, maka spontan pengembala tersebut
mengejarnya, tiba-tiba serigala itu berpaling menoleh kepadanya dan
berkata, 'Siapa yang dapat menjaganya pada waktu dia akan dimangsa,
yaitu hari tatkala tidak ada pengembala selain diriku Dan ketika
seorang sedang menggiring sapinya yang membawa beban, maka seketika
sapi itu menoleh padanya dan berkata, ' Sesungguhnya aku tidak
diciptakan untuk tugas ini, tetapi aku diciptakan Allah untuk
membajak.' Orang-orang berkata, 'Subhanallah!' Maka Nabi صلى الله عليه
وسلم bersabda, ' Sesungguhnya aku beriman kepada berita itu sebagaimana
Abu Bakar dan Umar mengimaninya pula'."



Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umar رضي الله عنه dia berkata,
"Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda," Barangsiapa menjulurkan
pakaiannya (di bawah mata kaki) karena kesombongan maka Allah tidak
akan melihatnya pada hari kiamat."



Maka Abu bakar رضي الله عنه berkata, "Sesungguhnya salah satu sisi dari
bajuku selalu melorot ke bawah, kecuali jika aku selalu mengetatkarmya,
maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Sesungguhnya engkau tidak
termasuk orang yang menjulurkan pakaiannya karena kesombongan."



8)Kemauannya yang Tinggi

Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه berkata," Aku mendengar
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda," Barangsiapa menginfakkan
sesuatu dari dua yang dimilikinya di jalan Allah niscaya akan diseru
dari pintu-pintu surga, "Wahai Harnba Allah inilahke-baikan. Maka
barangsiapa termasuk ahli shalat maka akan dipanggil dari pintu shalat,
barang siapa termasuk golongan yang suka berjihad maka akan dipanggil
dari pintu jihad dan barang siapa yang suka bersedekah maka akan
dipanggil dari pintu sedekah, barang siapa yang suka berpuasa maka akan
dipanggil dari pintu puasa dan dari pintu Ar Rayyan. Maka Abu Bakar
berkata, ' Bagaimana jika seseorang harus dipanggil dari setiap pintu,
dan apakah mungkin seseorang dipangil dari setiap pintu wahai
Rasulullah saw.?' Rasulullah صلى الله عليه وسلم. menjawab, ' Ya, dan
aku berharap agar engkau wahai Abu Bakar termasuk salah seorang dari
mereka'."



9)Keberkahan Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه dan Keluarganya



Diriwayatkan dari ‘Aisyah رضي الله عنه dia berkata, "Kami keluar
bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم. dalam sebuah perjalanan, ketika
kami sampai di suatu tempat yang bernama al-Baida -atau di Dzatul
Jaisy- terputuslah kalung yang kupakai, maka Rasulullah صلى الله عليه
وسلم. menyuruh rombongan berhenti untuk mencarinya dan orang-orang pun
berhenti bersama beliau, sementara mereka tidak menda-pati air dan
tidak mempunyai air, maka orang-orang mendatangi Abu Bakar dan berkata,
Tidakkah engkau melihat apa yang telah diperbuat oleh Aisyah? Dia telah
membuat Rasulullah saw. berhenti dan manusia pun berhenti bersa-manya,
sementara mereka tidak mendapatkan air dan tidak memilikinya.' Maka
datanglah Abu Bakar ketika Rasulullah saw. berbaring meletakkan
kepala-nya di atas pahaku sedang tertidur, Abu Bakar mendatangiku dan
berkata, 'Engkau telah menahan Rasulullah صلى الله عليه وسلم. dan
manusia sementara mereka tidak memiliki air dan tidak pula
mendapatkannya'." ‘Aisyah ra. berkata, "Maka ayahku mencelaku
habis-habisan sambil menusuk-nusuk pinggangku dengan tangan-nya, tidak
ada yang menghalangiku untuk bergerak kecuali takut Rasulullah saw.
terganggu tidurnya,

sementara Rasululullah masih tetap tidur hingga pagi datang dan mereka
tidak memiliki air, maka Allah turunkan waktu itu ayat mengenai
tayammum,



'Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci).'(An-Nisa': 43).



Usa'id bin Hudhair رضي الله عنه berkata, "Bukanlah ini awal dari
keberkahan kalian wahai keluarga Abu Bakar." Maka ‘Aisyah رضي الله عنه.
berkata, "Kemudian kami membangkitkan kendaraan tungganganku dan
ternyata kalung tersebut berada di bawahnya."



10) Berita Gembira Untuknya Sebagai Penghuni Surga

Diriwayatkan dari Sa'id bin Musayyab رضي الله عنه dia berkata, "Telah
berkata kepadaku Abu Musa al-Asy'ari bahwa suatu hari dia berwudhu' di
rumahnya kemudian berangkat keluar dan berkata, "Aku harus mengiringi
Rasulullah saw. hari ini."Beliau berangkat ke mesjid dan bertanya di
mana Nabi saw, maka dijawab bahwa beliau keluar untuk suatu hajat, maka
aku segera pergi beru-saha menyusulnya sambil bertanya-tanya, hingga
akhirnya beliau masuk ke kebun yang di dalamnya terdapat sebuah sumur
bernama Aris, maka aku duduk di pintu -dan ketika itu pintunya terbuat
dari pelepah kurma- hingga beliau menyelesaikan buang hajat dan setelah
itu berwudhu, maka akupun berdiri berjalan ke arahnya ternyata beliau
sedang duduk-duduk di atas sumur tersebut sambil menyingkap kedua
betisnya dan menjulur-julurkan kakinya ke dalam sumur, maka aku datang
memberi salam kepadanya, kemudian kembali ke pintu sambil berkata dalam
hatiku, "Hari ini aku harus menjadi penjaga pintu Rasulullah saw. Tak
lama kemudian datanglah Abu Bakar ingin membuka pintu, maka kutanyakan,
"Siapa itu?" Dia menjawab, "Abu Bakar!" Maka kukatakan padanya, "Tunggu
sebentar!" Aku segera datang kepada Rasulullah saw. dan bertanya
padanya, "Wahai Rasulullah saw., ada Abu Bakar

datang dan minta izin masuk!" Rasulullah saw. berkata, "Suruhlah dia
masuk dan beritahukan padanya bahwa dia adalah penghuni surga."Maka aku
berangkat menujunya dan berkata, "Masuklah sesungguhnya Rasulullah saw.
memberitakan padamu kabar gembira bahwa engkau adalah penghuni surga."
Abu Bakar masuk dan duduk di sebelah kanan Rasulullah saw. sambil
menjulurkan kakinya ke sumur sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah
saw dan dia menyingkap kedua betisnya
............................hingga akhir kisah."



Diriwayatkan dari Qatadah dari Anas bin Malik رضي الله عنه dia pernah
bercerita bahwa Nabi pernah menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar
dan Utsman, رضي الله عنه maka tiba-tiba gunung Uhud bergoncang dan
Rasulullah saw. lang-sung berkata, "Diamlah woahai Uhud sesunggnhnya di
atasmu ada seorang Nabi, seorang Shiddiq ra. dan dua syahid."



11) Sepak Terjangnya dalam Membela RasuIullah saw.

Diriwayatkan dari Urwah bin az-Zubair رضي الله عنه dia berkata, "Aku
pernah bertanya kepada Abdullah bin Amru tentang perbuatan kaum
musyrikin yang paling menyakitkan RasuIuUah, maka dia berkata, "Aku
pernah melihat Utbah bin Abi Mu'ith mendatangi Nabi yang sedang
shalat, maka tiba-tiba Uqbah melilit leher Nabi dengan sorban miliknya
dan mencekiknya sekeras-kerasnya, kemudian datanglah Abu Bakar
membelanya dan melepas-kan ikatan tersebut sambil berkata,"Apakah kamu
akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, 'Rabbku ialah Allah' padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu." (Al-Mukmin: 28).

Puteri-Puteri Rasulullah SAW



1. ZAINAB BINTI RASULULLAH SAW.


Zainab adalah putri tertua Rasulullah SAW.. Rasulullah SAW. telah menikahkannya dengan sepupu
beliau, yaitu Abul 'Ash bin Rabi' sebelum beliau diangkat menjadi Nabi,
atau ketika Islam belum tersebar di tengah-tengah mereka. lbu Abul 'Ash
adalah Halah binti Khuwaylid, bibi Zainab dari pihak ibu. Dari
pernikahannya dengan Abul 'Ash mereka mempunyai dua orang anak: Ali dan
Umamah. Ali meninggal ketika masih kanak-kanak dan Umamah tumbuh dewasa
dan kemudian menikah dengan Ali bin Abi Thalib ra. setelah wafatnya
Fatimah ra.

Setelah berumah tangga,
Zainab tinggal bersama Abul 'Ash bin Rabi' suaminya. Hingga pada suatu
ketika, pada saat suaminya pergi bekerja, Zainab mengunjungi ibunya.
Dan ia dapatkan keluarganya telah mendapatkan suatu karunia dengan
diangkatnya, ayahnya, Muhammad SAW. menjadi Nabi akhir jaman. Zainab
mendengarkan keterangan tentang Islam dari ibunya, Khadijah ra..
Keterangan ini membuat hatinya lembut dan menerima hidayah Islam. Dan
keislamannya ini ia pegang dengan teguh, walaupun ia belum menerangkan
keislamannya kepada suaminya, Abul 'Ash.

Sedangkan Abul 'Ash bin Rabi'
adalah termasuk orang-orang musyrik yang menyembah berhala. Pekerjaan
sehari-harinya adalah sebagai peniaga. Ia sering meninggalkan Zainab
untuk keperluan dagangnya. la sudah mendengar tentang pengakuan
Muhammad sebagai Nabi SAW.. Namun, ia tidak mengetahui bahwa istrinya,
Zainab sudah memeluk Islam. Pada tahun ke-6 setelah hijrah Nabi SAW. ke
Madinah.

Abul 'Ash bin Rabi' pergi ke
Syria beserta kafilah-kafilah Quraisy untuk berdagang. Ketika
Rasulullah SAW. mendengar bahwa ada kafilah Quraisy yang sedang kembali
dari Syria, beliau mengirim Zaid bin Haritsah ra. bersama 313 pasukan
muslimin untuk menyerang kafilah Quraisy ini. Mereka menghadang kafilah
ini di dekat Al-is di Badar pada bulan jumadil Awal. Mereka menangkap
kafilah itu dan barang-barang yang dibawanya serta menahan beberapa
orang dari kafilah itu, termasuk Abul 'Ash bin Rabi'. Ketika penduduk
Mekkah datang unluk menebus para tawanan, maka saudara laki-laki Abul
'Ash, yaitu Amar bin Rabi', telah datang untuk menebus dirinya. Ketika
itu, Zainab istri Abul 'Ash masih tinggal di Mekkah. la pun telah
mendengar berita serangan kaum muslimin atas kafilah-kafilah Quraisy
termasuk berita tertawannya Abul 'Ash.

Berita ini sangat
menyedihkannya. Lalu ia mengirimkan kalungnya yang terbuat dari batu
onyx Zafar hadiah dari ibunya, Khadijah binti Khuwaylid ra.. Zafar
adalah sebuah gunung di Yaman. Khadijah binti Khuwaylid telah
memberikan kalung itu kepada Zainab ketika ia akan menikah dengan Abul
'Ash bin Rabi'. Dan kali ini, Zainab mengirimkan kalung itu sebagai
tebusan atas suaminya, Abul 'Ash. Kalung itu sampai di tangan
Rasulullah SAW. Ketika beliau SAW. melihat kalung itu, beliau segera
mengenalinya. Dan kalung itu mengingatkan beliau kepada istrinya yang
sangat ia sayangi, Khadijah. Beliau berkata, 'Seorang Mukmin adatah
penolong bagi orang Mukmin lainnya. Setidaknya mereka memberikan
perlindungan. Kita lindungi orang yang dilindungi oleh Zainab. jika
kalian bisa mencari jalan untuk niembebaskan Abul 'Ash kepada Zainab
dan mengembalikan kalungnya itu kepadanya, maka lakukaniah.' Mereka
menjawab, 'Baik, ya Rasulullah SAW' Maka mereka segera membebaskan Abul
'Ash dan mengembalikan kalung itu kepada Zainab.

Kemudian Rasulullah SAW.
menyuruh Abul 'Ash agar berjanji untuk membiarkan Zainab bergabung
bersama Rasulullah SAW. Dia pun berjanji dan memenuhi janjinya itu.
Ketika Rasulullah SAW. pulang ke rumahnya, Zainab datang menemuinya dan
meminta untuk mengembalikan kepada Abul 'Ash apa yang pernah diambil
darinya. Beliau mengabulkannya. Pada kesempatan itu, Beliau pun telah
melarang Zainab agar tidak mendatangi Abul 'Ash, karena dia tidak halal
bagi Zainab selama dia masih kafir. lalu Abul 'Ash kembali ke Mekkah
dan menyelesaikan semua kewajibannya. Kemudian dia masuk Islam dan
kembali kepada Rasulutiah SAW sebagai seorang Muslim. Dia berhijrah
pada bulan Muharram, 7 Hijriyah. Maka Rasulullah SAW. pun mengembalikan
Zainab kepadanya, berdasarkan pernikahannya yang pertama.

Zainab wafat pada tahun 8
Hijriyah. Orang-orang yang memandikan jenazahnya ketika itu, antara
lain ialah; Ummu Aiman, Saudah binti Zam'ah, Ummu Athiyah dan Ummu
Salamah ra.. Rasulullah SAW. berpesan kepada mereka yang akan
memandikan jenazahnya ketika itu, 'Basuhiah dia dalarn jumlah Vang
ganjil, 3 atau 5 kali atau iebih jika kalian merasa lebih baik begitu.
Mulailah dari sisi kanan dan anggota-anggota wudhu. Mandikan dia dengan
air dan bunga. Bubuhi sedikit kapur barus pada air siraman yang
terakhir. Jika kalian sudah selesai beritahukaniah kepadaku.' Ketika
itu, rambut jenazah dikepang meniadi tiga kepangan, di samping dan di
depan lalu dikebelakangkan. Setelah selesai dari memandikan jenazah,
Ummu Athiyah memberitahukan kepada Nabi SAW. Lalu Nabi SAW memberikan
selimutnya dan berkata, 'Kafanilah dia dengan kain ini.'



2. RUQAYYAH BINTI RASULULLAH SAW.
Ruqayyah telah menikah dengan
Utbah bin Abu lahab sebelum masa kenabian. Sebenarnya hat itu sangat
tidak disukai oleh Khadijah ra.. Karena ia telah mengenal perilaku ibu
Utbah, yaitu Umrnu jamil binti Harb, yang terkenal berperangai buruk
dan jahat. ta khawatir putrinya akan memperoleh sifat-sifat buruk dari
ibu mertuanya tersebut. Dan ketika Rasulullah SAW. telah diangkat
menjadi Nabi, maka Abu Lahablah, orang yang paling memusuhi Rasulullah
SAW. dan Islam. Abu Lahab telah banyak menghasut orang-orang Mekkah
agar memusuhi Nabi SAW. dan para sahabat ra.. Begitu pufa istrinya,
Ummu Jamil yang senantiasa berusaha mencelakakan Rasulullah SAW. dan
memfitnahnya. Atas perilaku Abu lahab dan permusuhannya yang keras
terhadap Rasulullah SAW., maka Allah telah menurunkan wahyu-Nya, 'Maka
celakalah kedu,7 tangan Abu lahab, (Al lahab: 1) Setelah ayat ini
turun, maka Abu lahab berkata kepada kedua orang putranya, Utbah dan
Utaibah, 'Kepalaku tidak haial bagi kepalamu selama kamu tidak
menceraikan Putri Muhammad.' Atas perintah bapaknya itu, maka Utbah
mericeraikan istrinya tanpa alasan. Setelah bercerai dengan Utbah,
kemudian Ruqayyah dinikahkan oleh Rasulullah SAW. dengan Utsman bin
Affan ra.

Hati Ruqayyah pun
berseri-seri dengan pernikahannya ini. Karena Utsman adalah seorang
Muslim yang beriman teguh, berbudi luhur, tampan, kaya raya, dan dari
golongan bangsawan Quraisy. Setelah pernikahan itu, penderitaan kaum
muslimin bertambah berat, dengan tekanan dan penindasan dari kafirin
Quraisy. Ketika semakin hari penderitaan kaum muslimin, termasuk
keluarga Rasulutlah SAW. bertambah berat, maka dengan berat hati Nabi
SAW. mengijinkan Utsman beserta keluarganya dan beberapa muslim lainnya
untuk berhijrah ke negeri Habasyah. Ketika itu Rasulullah SAW.
bersabda, 'Pergilah ke negeri Habasyah, karena di sana ada seorang raja
yang terkenal baik budinya, tidak suka menganiaya siapapun, Di sana
adalah bumi yang melindungi kebenaran. Pergilah kalian ke sana.
Sehingga Allah akan membebaskan kalian dari penderitaan ini.'

Maka berangkatlah satu
kafilah untuk berhijrah dengan diketuai oleh Utsman bin Affan ra.
Rasulullah SAW. bersabda tentang mereka, Mereka adalah orang yang
pertama kali hijrah karena Allah setelah Nabi Luth as.' Setibanya di
Habasyah mereka memperoleh perlakuan yang sangat baik dari Raja
Habasyah. Mereka hidup tenang dan tenteram, hingga datanglah berita
bahwa keadaan kaum muslimin di Mekkah telah aman. Mendengar berita
tersebut, disertai kerinduan kepada kampung halaman, maka Utsman
memutuskan bahwa kafilah muslimin yang dipimpimnya itu akan kembali
lagi ke kampung halamannya di Mekkah. Mereka pun kembali. Namun apa
yang dijumpai adalah berbeda dengan apa yang mereka dengar ketika di
Habasyah. Pada masa itu, mereka mendapati keadaan kaum muslimin yang
mendapatkan penderitaan lebih parah lagi. Pembantaian dan penyiksaan
atas kaum muslimin semakin meningkat. Sehingga rombongan ini tidak
berani memasuki Mekkah pada siang hari. Ketika malam telah menyelimuti
kota Mekkah, barulah mereka mengunjungi rumah masingmasing yang dirasa
aman. Ruqayyah pun masuk ke rumahnya, melepas rindu terhadap orang tua
dan saudara-saudaranya.

Namun ketika matanya beredar
ke sekeliling rumah, ia tidak menjumpai satu sosok manusia yang sangat
ia rindukan. la bertanya, 'Mana ibu?..... mana ibu?....'
Saudara-saudaranya terdiam tidak menjawab. Maka Ruqayyah pun sadar,
orang yang sangat berarti dalam hidupnya itu telah tiada. Ruqayyah
menangis. Hatinya sangat bergetar, bumi pun rasanya berputar atas
kepergiannya. Penderitaan hatinya, ternyata tidak berhenti sampai di
situ. Tidak lama berselang, anak lelaki satu-satunya, yaitu Abdullah
yang lahir ketika hijrah pertama, telah meninggal dunia pula. Padahal
nama Abdullah adalah kunyah bagi Utsman ra., yaitu Abu Abdullah.
Abdullah masih berusia dua tahun, ketika seekor ayam jantan mematuk
mukanya sehingga mukanya bengkak, maka Allah mencabut nyawanya.
Ruqayyah tidak mempunyai anak lagi setelah itu.

Dia hijrah ke Madinah setelah
Rasulullah SAWj. hijrah. Ketika Rasulullah SAW. bersiap-siap untuk
perang Badar, Ruqayyah jatuh sakit, sehingga Rasulullah SAW. menyuruh
Utsman bin Affan agar tetap tinggal di Madinah untuk merawatnya. Namun
maut telah menjemput Ruqayyah ketika Rasulullah SAW. masih berada di
medan Badar pada bulan Ramadhan. Kemudian berita wafatnya ini
dikabarkan oleh Zaid bin Haritsah ke Badar. Dan kemenangan kaum
muslimin yang dibawa oleh Rasulullah SAW. beserta pasukannya dari
Badar, ketika masuk ke kota Madinah, telah disambut dengan berita
penguburan Ruqayyah ra. Pada saat wafatnya Ruqayyah, Rasulullah SAW.
berkata, Bergabunglah dengan pendahulu kita, Utsman bin Maz'un.'

Para wanita menangisi
kepergian Ruqayyah. Sehingga Umar bin Khattab ra. datang kepada para
wanita itu dan memukuli mereka dengan cambuknya agar mereka tidak
keterlaluan dalam menangisi jenazah Ruqayyah. Akan tetapi Rasulullah
SAW. menahan tangan Umar ra. dan berkata, 'Biarkaniah mereka menangis,
ya Umar. Tetapi hati-hatilah dengan bisikan syaitan. Yang datang dari
hati dan mata adalah dari Allah dan merupakan rahmat. Yang datang dari
tangan dan lidah adalah dari syaitan.'



3. UMMU KULTSUM BINTI RASULULLAH SAW.
Ummu Kultsum adalah adik
Ruqayyah ra., putri Rasulullah SAW. Ia telah menikah dengan Utaibah bin
Abu Lahab, saudara Utbah yang telah menikahi Ruqayyah, sebelurn mereka
mengenal Islam. Lalu ketika Rasulullah SAW. telah diangkat menjadi
Nabi, ia dan saudara-saudaranya memeluk Islam dengan lapang dada. Dan
dakwah Nabi SAW. yang selalu ditentang oleh Abu lahab beserta
keluarganya ini, menyebabkan Allah telah mewahyukan kepada Nabi SAW.
firman-Nya yang berbunyi, Maka celakalah kedua tangan Abu
lahab'(Al-lahab: 1) ' Setelah tutun ayat ini, Abu lahab berkata kepads
Utaibah anaknya, "Kepalaku tidak halal bagi kepalamu selama kamu tidak
menceraikan putri Nabi. Maka dia pun menceraikan istrinya, Ummu Kultsum
begitu saja. Utaibah mendatangi Nabi SAW. dan mengatakan kata-kata yang
menyakitkan hati Rasulullah SAW. Atas periakuan itu, maka Rasulullah
SAW. telah berdoa kepada Allah, agar mengirimkan anjing-anjing-Nya
untuk membinasakan Utaibah. Dan apa yang telah didoakan oleh Nabi SAW.
terhadap Utaibah itu benar-benar teriadi.

Dalam suatu perjalanan,
seekor singa yang ganas teiah memilih Utaibah di antara teman-temannya
untuk diterkam kepalanya. Utaibah mati dalam keadaan yang sangat
mengerikan. Setelah bercerai, maka Ummu Kultsum kembali tinggal bersama
Rasulullah SAW. di Mekkah. Dia ikut hijrah ke Madinah ketika Rasulullah
SAW. berhijrah, kemudian tinggal di sana bersama keluarga Rasulullah
SAW. Ruqayyah dan Ummu Kultsum adalah dua orang saudara yang perjalanan
hidup mereka hampir sama. Mereka berdua teriahir dari bapak yang sama,
ibu yang sama, suami mereka pun kakak beradik yang namanya mempunyai
arti yang sama; Utbah dan Utaibah, mempunyai mertua yang sama, masuk
Islam pada hari yang sama, bercerai pada hari yang sama, dan setelah
perceraian itu, mereka mempunyai suami yang sama pula.

Ketika Ruqayyah meninggal
dunia, maka Utsman bin Affan ra. menikahi Ummu Kultsum yang masih
perawan yang belum terjamah oleb Utaibah. Pada waktu itu adalah bulan
Rabi'ul-Awwal, tahun ke-3 Hijriyah. Dan keduanya baru berkumpul pada
bulan Jumadits-Tsani. Mereka hidup bersama sampai Ummu Kultsum
meninggal dunia tanpa mendapatkan seorang anak pun. Ummu Kultsum
meninggal dunia pada bulan Sya'ban tahun ke-9 Hijriyah. Rasulullah SAW.
berkata, 'Seandainya aku mempunyai sepuluh orang putri, maka aku akan
tetap menikahkan mereka dengan Utsman.' Ummu Kultsum adaiah seorang
wanita yang cantik. la senang memakai jubah sutra yang bergaris. Pada
hari wafatnya, jenazahnya telah dimandikan oleh Asma' binti Umais dan
Shafiah binti Abdul Muthalib. jenazahnya ditempatkan di atas sebuah
keranda yang terbuat dari batang polgon palem yang baru dipotong. Dan
pada saat penguburannya, Rasulullah SAW. duduk di dekat kuburan Ummu
Kultsum dengan berlinangan air mata. Beliau berkata, siapa di antara
kalian yang tidak bercampur dengan istrinya tadi malam?' Abu Thalhah
ra. berkata, 'Aku, ya Rasulullah SAW' lalu Beliau menyuruhnya,
"Turunlah kamu." Maka Abu Thalhah turun dan menguburkan Ummu Kultsum ra.



4. FATIMAH BINTI RASULULLAH SAW.
Pada suatu ketika, Abu Bakar
ra. pernah datang kepada Rasulullah SAW. dan meminang Fatimah ra. untuk
dijadian sebagai istrinya. Hal itu dijawab oleh Beliau SAW. dengan
halus, "Wahai Abu Bakar, tunggulah ketetapan tentang Fatimah.' Jawaban
Rasulullah SAW. ini diceritakan oleh Abu Bakar ra. kepada Umar bin
Khattab ra.. Umar berkata, itu artinya beliau menolakmu, wahai Abu
Bakar. Kemudian Abu Bakar ra. menyarankan kepada Umar ra, 'Sekarang
cobalah kamu yang menanyai Rasulullah SAW. untuk meminang Fatimah.'
Atas anjuran tersebut, maka Umar ra. pergi menjumpai Rasulullah SAW.
dan meminta kepada Beliau SAW. untuk menikahkan Fatimah ra. dengannya.
Pada kali itu pun Rasulullah SAW. menjawab, 'Wahai Umar, Tunggulah
ketetapan tentangnya.' Setelah dijawab demikian, Umar ra. menemui Abu
Bakar dan menceritakan hal ini kepadanya. 'Berarti beliau juga telah
menolakmu wahai Umar.' Kata Abu Bakar ra.. Selanjutnya keluarga Ali ra.
telah menyarankan kepada Ali ra., 'Mintalah kepada Rasulullah SAW. agar
kamu dapat meminang Fatimah.' Maka Ali ra. mendatangi Rasulullah SAW.
untuk meminang Fatimah. Pinangan ini diterima oleh beliau dengan baik.
Dan pada hari itu juga Rasulullah SAW. telah menikahkannya dengan
Fatimah ra. dengan mahar beberapa pakaian bekas dan kulit domba.

Dan ketika itu, perlengkapan
pengantin wanitanya antara lain adalah tempat tidur dari dedaunan
kurma, bantal kulit berisi jerami, bejana kulit kecil dan kantong air
dari kulit. Untuk pernikahan itu, Ali ra. telah menjual seekor unta
miliknya dan sebagian barang-barangnya, sehingga terkumpul 480 dirham.
Setelah terkumpul Rasulullah SAW. menyuruh Ali, "Belikaniah dua pertiga
dari uang itu untuk wangi-wangian dan yang sepertiganya untuk
barang-barang.' Setelah menikahi Fatimah, maka Nabi SAW. berkata kepada
Ali ra., 'Carilah rumah'. Maka Ali pun mencari sebuah rurnah untuk
tempat tinggainya bersama keluarga baru. la menemukan sebuah rumah yang
agak jauh dari kediaman Rasulullah SAW. Karena rasa sayang Rasulullah
SAW. kepada Fatimah, beliau berkata kepada Fatimah, 'Aku ingin kalian
pindah agar berdekatan denganku.' Fatimah menjawab, 'Sebaiknya
ayahanda, meminta kepada Haritsa bin Nu'man untuk pindah demi aku.'
Rasulullah SAW. menjawab, 'Haritsa dulu pernah pindah demi kita, jadi
aku enggan untuk memintanya kembali.' Hal ini telah terdengar oleh
Haritsa, sehingga ia datang menemui Rasulullah SAW. dan berkata, 'Ya
Rasulullah SAW, aku telah mendengar bahwa engkau ingin agar Fatirnah
pindah ke dekat rumahmu. Rumah-rumahku adalah rumah Bani Najjar yang
paling dekat ke rumahmu. Aku dan hartaku adalah untuk Allah dan
Rasul-Nya. Demi Allah, Ya Rasulullah SAW. aku lebih menyukai uang yang
engkau ambil dariku daripada yang tinggal.' Rasulullah SAW. berkata,
'Engkau telah berkata dengan sebenarnya, semoga Allah memberkatimu.'
Maka Rasulullah SAW. memindahkan Fatimah ke rumah Haritsa.

Ali dan Fatimah ra. adalah
pasangan suami istri yang hidup dengan penuh kesederhanaan. Tempat
tidur mereka terbuat dari kulit domba. jika mereka akan tidur, mereka
harus membalikkan bulunya terlebih dahulu. Sedangkan bantainya terbuat
dari kulit yang diisi jerami. Walaupun demikian, hari-hari mereka telah
diisi dengan kebahagiaan. Pada suatu ketika, Fatimah berkata, 'Demi
Allah, aku telah menumbuk gandum sampai tanganku lecet.' Maka Ali ra.
menganjurkan kepada istrinya, agar menjumpai Rasulullah SAW. untuk
meminta tawanan-tawanan perang sebagai pembantu di rumahnya. Fatimah
pun segera menemui Rasulullah SAW.. Sesampainya di sana, banyak sahabat
sedang berkumpul di sisi Rasulullah SAW.. Rasulullah SAW. bertanya,
'Ada apa, wahai putriku?' Fatimah menjawab, 'Aku datang untuk
mengucapkan salam untukmu.' Fatimah terlalu segan untuk mengutarakan
maksudnya, sehingga ia kembali pulang tanpa tertunaikan maksud
kedatangannya. Sesampainya di rumah Ali bertanya, "Bagaimana haslinya?'
Fatimah menjawab, 'Aku terlalu malu untuk meminta kepada beliau.'
Kemudian mereka berdua datang menghadap Rasulullah SAW.. Ali ra.
berkata, 'Ya Rasulullah SAW., Fatimah telah menimba air sampai dadanya
luka.ia telah menumbuk (gandum) sampai tangannya lecet. Dan Allah telah
memberimu rampasan perang dan kekayaan, berilah kami seorang pelayan.'
Namun Rasulullah SAW. menjawab, 'Demi Allah, aku tidak akan memberimu
pelayan, dan membiarkan ahli Shuffah menahan perutnya karena kelaparan.
Aku tidak mempunyai sesuatu untuk mereka, jadi aku akan menjual barang
rampasan itu dan memberikannya kepada mereka. Maukah kalian kuceritakan
sesuatu yang lebih baik daripada yang kalian minta tadi? Mereka
menjawab, 'Ya, tentu saja.' Beliau berkata, 'Yaitu beberapa kalimat
yang diajarkan Jibril kepadaku. Ketika kalian beristirahat di tempat
tidur ucapkanlah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu
Akbar 34 kali. Dan nasehat itu telah menjadi amalan rutin keluarga
Fatimah ra.

Ali ra. berkata, 'Demi Allah,
aku tidak pernah mengabaikan bacaan itu sejak Rasulullah SAW.
mengajarkannya kepada kami.' lbnu Kiwa' berkata kepadanya, 'Bahkan pada
malam perang Siffin?' Ali menjawab, 'Semoga Allah murka pada kalian,
wahai penduduk lrak.

Suatu ketika, Ali ra. pernah
berbuat kasar kepada Fatimah ra. Lalu Fatimah ra. mengancam Ali ra.,
Demi Allah, aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah SAW.!' Fatimah pun
pergi kepada Nabi SAW. dan Ali ra. mengikutinya. Sesampainya di sana,
Fatimah mengeluhkan tentang kekasaran Ali ra.. Nabi SAW.
menyabarkannya, 'Wahai putriku, dengarkanlah, pasang telinga dan
pahami. Bahwa tidak ada kepandaian sedikit pun bagi wanita yang tidak
membalas kasih sayang suaminya ketika dia tenang.' Ali ra. berkata,
'Kalau begitu aku akan menahan diri dari yang telah kulakukan.' Fatimah
pun berkata, Demi Allah, aku tidak akan berbuat apapun yang tidak
engkau sukai.'

Juga disebutkan dalam riwayat
lain, Pernah terjadi pertengkaran antara Ali dan Fatimah. Lalu
Rasulullah SAW. datang, dan Ali ra. menyediakan tempat untuk Rasulullah
SAW. berbaring. Kemudian Fatimah datang dan berbaring di samping Nabi
SAW.. lalu Ali pun berbaring di sisi lainnya. Rasulullah SAW. mengambil
tangan Ali dan meletakkannya di atas perut beliau, lalu beliau
mengambil tangan Fatimah dan meletakkannya di atas perut beliau.
Selanjutnya beliau mendamaikan keduanya sehingga rukun kembali, Setelah
itu barulah beliau keluar. Ada orang yang melihat kejadian itu lalu
berkata kepada Rasulullah SAW., 'Tadi engkau masuk dalam keadaan
demikian, lalu engkau keluar dalam keadaan berbahagia di
wajahmu.'Beliau menjawab, 'Apa yang menahanku dari kebahagiaan, jika
aku dapat mendamaikan kedua orang yang paling aku cintai?'

Pada suatu ketika, 'Aisyah
ra. sedang duduk bersama Rasulullah SAW., kemudian datanglah Fatimah
dengan gaya berjalannya yang sama dengan gaya berjalan Rasulullah SAW.
Nabi SAW. menyambutnya, 'Selamat datang, Putriku.' Lalu Beliau
mendudukkan Fatimah di sampingnya dan membisikkan sesuatu kepadanya
sehingga Fatimah menangis. Kemudian beliau kembali membisiki lagi
kepada Fatimah, dan dia tertawa. Melihat hal ini, 'Aisyah bertanya,
'Mengapa engkau menangis lalu tertawa setelah dibisiki oleh Rasulullah
SAW. Apa gerangan yang telah dibisikkan Rasulullah SAW. kepadamu?'
Fatimah menjawab, 'Aku tidak akan membuka rahasia beliau.'

Ketika Rasulullah SAW. wafat,
'Aisyah bertanya lagi kepada Fatimah, dan ia menjawab, 'Rasulullah SAW.
membisikiku, 'Jibril selalu mendatangiku setiap tahun dan mengulangi
Al-Qur'an kepadaku satu kali. Namun, pada tahun ini dia datang kepadaku
dua kaii dan membacakan Al-Qur'an kepadaku dua kali. Aku merasa ajalku
sudah dekat. Aku penghulu terbaik bagimu.' Maka aku menangis. Lalu
Beliau membisikkan lagi, 'Engkau orang yang paling cepat menyusuiku
dari keluargaku.' Maka aku tertawa karenanya.

Pada hari-hari menjelang
kematiannya, Fatimah disrerang sakit yang parah. Abu Bakar ra. pergi
mengunjungi Fatimah dan meminta izin untuk masuk. Maka Ali berkata
kepada istrinya, Fatimah, 'Ada Abu Bakar di depan pintu. Apakah engkau
mengizinkannya masuk?' Fatimah ra. mengembalikan pertanyaan itu kepada
suaminya, 'Apakah engkau setuju?' 'Ya,' jawab Ali. Maka Abu Bakar ra.
masuk untuk mengunjunginya dan menghiburnya sehingga membuat Fatimah
senang. Dan pada ketika sakitnya itu, Salma datang menengoknya.
Sedangkan pada hari itu Ali ra. sedang keluar. Fatimah berkata kepada
Salma, 'Tuangkaniah air untuk mandiku.' Maka Salma menuangkan air untuk
mandi Fatimah dengan cara yang terbaik. Kemudian Fatimah berkata,
'Bawakantah bajuku yang baru.' Maka Salma memberikan pakaian baru
kepadanya dan dia pun mengenakannya. Kemudian Fatimah berkata lagi,
'Angkatlah tempat tidurku ke tengah-tengah ruangan.' Salma
memindahkannya, lalu dia berbaring menghadap kiblat. Kemudian Fatimah
berkata kepada Salma, 'Ibu, aku akan menemui ajal sekarang. Aku telah
mandi, jadi jangan biarkan orang lain membuka bahuku.' Salma bercerita,
'Fatimah telah wafat.

Kemudian Ali datang dan aku
mengabarkan hal itu kepadanya.' Ali ra. berkata, 'Demi Allah, tidak
seorang pun yang akan membuka bahunya.' Dia mengangkat jenazah Fatimah
dan menguburkannya dengan mandi itu.

Thursday, 5 May 2011

Hadis 2

1. Imam Syafi'i berkata Saudaraku, engkau tidaklah mendapatkan ilmu, kecuali dengan 6 perkara, ku kabarkan kepadamu perinciannya dgn jelas:
1.kecerdasan,
2.kemahuan keras,
3.sungguh2,
4.bekal cukup,
.5.bimbingan guru,
6.waktu yg lama.
(Diwaan Imam as-Syafi'i)
2. Dari Ali Bin Abi Thalib k.w, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam. Bersabda, "wahai Ali, ada 3 hal yg tdk boleh di akhir-akhirkan: shalat jika telah datang waktunya, jenazah jika telah siap dan yg lajang jika telah ada pasangannya yg cocok(untuk segera menikah)."
(HR. At-Tirmidzi,Ibnu Majah,Ahmad).
3. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. bersabda: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia (ber)silaturrahim". (H.R. Muslim)

4. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. bersabda: "Salinglah berbagi hadiah niscaya kalian akan saling mencintai". (H.R. Tirmidzi)
5. “Tidak ada satu subuh-pun yg dialami hamba2 Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat.

Salah satu di antara keduanya berdoa: “Ya Allah, berilah ganti bagi orang yg berinfaq”,

sedangkan yang satu lagi berdo’a “Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yg menahan(hartanya)”.
(HR Bukhary 5/270)
 

nama anak-anak